Senin, 15 Agustus 2016

Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan

Sobat Gus Dur yang di rahmati Allah, Gus Dur memang sudar pulang kerahmat Allah namun perjuangan dan idiologi beliau selalu hidup dengan ajaran-ajarannya yang selalu kita ikuti bersama. Kehumanisan dan kegigihan beliau dalam menjaga NKRI yang begitu iklas serta tidak pernah goyah akan kedudukan dan kekuasaan dapat tercermin dalam keadaan beliau yang rela melepaskan jabatan kePresidenan pada waktu itu.Tidak akan pernah habis jika kita membicarakan tingkah pola Gus Dur dari yang nyeleh dan aneh sampai dengan yang logis dan ilmiah.Kecerdasan dan ketajaman pikirnya tidak semua orang bisa menandinginya.Hafalan yang begitu kuat dan ilmu yang begitu luas seakan selalu menyemat dalam dirinya.

Gus Dur memang tokoh dan guru bangsa yang patutu untuk kita kenang dan hormati, perjalanan beliau selalu membawa kesan tersendiri. Lihat saja Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan ini yang begitu mengesnakan, peristiwa yang patut untuk kita kenang dan tidak kita lupakan begitu saja. Dalam dakwah dan perjalanannya sering kali orang kurang melihat Gus Dur dari sisi ulama salaf yang mempuni, beliau lebih dilihat dari tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi ke beragaman sesuai dengan Kebinikaan kita sebagai negara Pancasila. Saat anda melihat Gus Dur dari dunia pesantren maka anda akan tahu bahwa Gus Dur merupakan tokkoh yang mempuni dibidang keagamaan berbagai kitab mampu beliau hafal beserta sanand lengkapnya.Serta ke zuhudan yang melekat dalam dirinya pun dapat kita temukan dalam kehidupan kesehariannya.

Sehingga tidak heran jika Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan tidka pernah dilupakan oleh generasi berikutnya. Namun sayang bagi kelompok yang kurnag menyukai Gus Dur beliau cuma dipandang sebelah maka sebagai orang yang penuh kekurangan fisik saja. Namun jika orangitu mau membuka dengan pikiran jernihnya maka kelebihan dan ke pandian beliau belum tentu bisa ia tandingi. Dan jika kurnag percaya atau kurang mengenal akan Gus Dur silahkan untuk baca profil perjalanan beliau ini melalui Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan semoga anda mendapat jawaban dari ketidak sukaan anda. Selamat membaca:


Gusdurfiles.com ~ Tarian tradisional China dengan menggunakan sarung menyerupai singa alias barongsai sempat mencapai masa kejayaannya di Indonesia setelah era reformasi. Saat itu, kesenian yang mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi tersebut kerap terlihat tampil di berbagai acara yang digelar masyarakat.

Namun, saat ini, nasib barongsai berbalik 180 derajat lantaran para senimannya mengaku jarang mendapat undangan untuk tampil dan menghibur masyarakat.

“Kalau saat ini, satu bulan dapat satu kali undangan tampil saja rasanya sudah bersyukur, Mas. Sebab, sekarang enggak seperti pada saat zaman Gus Dur (Abdurrahman Wahid) jadi presiden, yang setiap kali acara keagamaan pasti mengundang barongsai,” tutur manajer barongsai dan liong Budi Luhur, Dwi Budi Santoso, Selasa (16/8/2016).

Barongsai yang sempat dilarang pada era Presiden Soeharto merasakan masa kejayaan pada masa Presiden Gus Dur. Namun, sekarang kondisinya terpuruk.

Kendati demikian, untuk saat ini, perkumpulan yang berdiri pada 1998 tersebut menyatakan tetap eksis dalam mempertahankan kesenian barongsai meski tak lagi mendapat banyak order seperti dulu karena mengaku sudah telanjur cinta.

“Paling-paling saat Imlek saja yang lumayan ramai undangan. Di luar itu ya
tadi, sebulan dapat undangan tampil satu kali saja rasanya sudah bersyukur. Meski begitu, saya dan rekan-rekan tetap bertekad eksis, karena kami semua sudah telanjur cinta dan menyayangi kesenian ini,” terangnya.

Saat dikonfirmasi mengenai pandangannya tentang sepinya pihak yang mengundang kesenian barongsai saat ini, Budi memprediksi, hal itu bisa juga karena masyarakat sudah bosan melihat tontonan kesenian itu. Mungkin juga karena faktor biaya untuk mengundang barongsai yang dianggap mahal.

“Untuk sekali tampil, kami biasanya memasang tarif Rp 4 juta. Bagi banyak orang, angka ini mungkin terlihat besar dan mahal. Tetapi, bagi kami, tarif tersebut sudah murah, karena setiap kali selesai tampil kami juga sisihkan sebagian pendapatan untuk perawatan peralatan,” beber pria berusia 33 tahun tersebut.

Selain dibagi bersama 14 rekannya yang lain, anggaran yang didapat tersebut sebagian disisihkan untuk perawatan peralatan yang dikatakan Budi rentan rusak. Seperti baju singa, gong, dan juga alat tetabuhan yang lain.

“Memang tak rusak sekaligus, tapi kalau rusak dan sampai beli baru, biaya yang dibutuhkan juga mahal, sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Karena peralatan barongsai juga dijual terbatas, sehingga mahal karena susah carinya,” ucap Budi.

Oleh karena itu, Budi beserta rekan-rekannya di perkumpulan barongsai dan liong Budi Luhur berharap banyaknya tawaran manggung yang pernah mereka rasakan kejayaan sewaktu almarhum Gus Dur masih menjabat sebagai presiden.

“Sekarang ini kan momen Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Semoga saja akan banyak pihak yang kembali antusias dalam mengundang barongsai,” harapnya.

Sementara sambil menunggu order manggung yang didapat guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, para seniman barongsai dan liong Budi Luhur juga menekuni pekerjaan lain. Ada yang membuka warung, menjadi sopir rental, ataupun tenaga kerja serabutan.


Sumber : kompas.com

Judul Artikel lain:


Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan

Judul artikel terkait :Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan
Alamat link terkait :Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan

  • Ramalan Gus Dur Tentang Ahok, Kiai Said dan Sutarman Gusdurfiles.Com ~ Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: “Hal yang misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adal ...
  • Ngaji Kehidupan kepada Sang KekasihSekitar 50 lukisan kiai karya perupa kelahiran Gresik, Jawa Timur, Nabila Dewi Gayatri, akan dipamerkan di Grand Syahid, Jakarta mulai 8 hingga 14 Mei. Pameran yang bert ...
  • Betulkah Gus Dur Disebut "Bapaknya" Orang Papua?Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki sembilan nilai utama diwariskan, yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, ...
  • Kesan Cak Lontong Bergaul dengan Orang NUPelawak Cak Lontong mengaku lahir dalam tradisi NU. Pada masa kecilnya, dia kerap mengikuti tahlilan yang diadakan tetangganya. Bahkan ia juga pernah mengikuti tradisi z ...
  • Gaji Hasil Kerja Gus Dur Habis DisedekahkanDulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kam ...

0 komentar:

Posting Komentar