Gus Dur memang tokoh dan guru bangsa yang patutu untuk kita kenang dan hormati, perjalanan beliau selalu membawa kesan tersendiri. Lihat saja Cak Lontong: Saya Kan Gusdurian ini yang begitu mengesnakan, peristiwa yang patut untuk kita kenang dan tidak kita lupakan begitu saja. Dalam dakwah dan perjalanannya sering kali orang kurang melihat Gus Dur dari sisi ulama salaf yang mempuni, beliau lebih dilihat dari tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi ke beragaman sesuai dengan Kebinikaan kita sebagai negara Pancasila. Saat anda melihat Gus Dur dari dunia pesantren maka anda akan tahu bahwa Gus Dur merupakan tokkoh yang mempuni dibidang keagamaan berbagai kitab mampu beliau hafal beserta sanand lengkapnya.Serta ke zuhudan yang melekat dalam dirinya pun dapat kita temukan dalam kehidupan kesehariannya.
Sehingga tidak heran jika Cak Lontong: Saya Kan Gusdurian tidka pernah dilupakan oleh generasi berikutnya. Namun sayang bagi kelompok yang kurnag menyukai Gus Dur beliau cuma dipandang sebelah maka sebagai orang yang penuh kekurangan fisik saja. Namun jika orangitu mau membuka dengan pikiran jernihnya maka kelebihan dan ke pandian beliau belum tentu bisa ia tandingi. Dan jika kurnag percaya atau kurang mengenal akan Gus Dur silahkan untuk baca profil perjalanan beliau ini melalui Cak Lontong: Saya Kan Gusdurian semoga anda mendapat jawaban dari ketidak sukaan anda. Selamat membaca:
Pelawak Cak Lontong mengaku sebagai orang yang berpihak kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Muktamar NU Pondok Pesantren Cipasung pada 1994. Ia mengikuti peristiwa itu dari berita ketika dijegal menjadi Ketua Umum PBNU oleh kekuasaan Orde Baru yang mengusung Abu Hasan.
“Zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru; penggemar Gus Dur mulai itu,” katanya kepada NU Online sebelum dia tampil pada peringatan Harlah NU yang berlangsung di PBNU, Jakarta, Selasa malam (31/1).
Sekitar tahun 1994, pria bernama asli Lies Hartono itu masih berstatus mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Menurutnya, saat itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah (Orba).
“Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu,” jelasnya.
Ia mengaku memiliki ketertarikan kepada Gus Dur. Karena, secara kultur, ia dan Gus Dur sama-sama berasal dari Jawa Timur.
“Kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)
Sumber : nu.or.id
0 komentar:
Posting Komentar