Rabu, 24 Agustus 2016

Gus Dur dan Kekuatan Membaca

Sobat Gus Dur yang di rahmati Allah, Gus Dur memang sudar pulang kerahmat Allah namun perjuangan dan idiologi beliau selalu hidup dengan ajaran-ajarannya yang selalu kita ikuti bersama. Kehumanisan dan kegigihan beliau dalam menjaga NKRI yang begitu iklas serta tidak pernah goyah akan kedudukan dan kekuasaan dapat tercermin dalam keadaan beliau yang rela melepaskan jabatan kePresidenan pada waktu itu.Tidak akan pernah habis jika kita membicarakan tingkah pola Gus Dur dari yang nyeleh dan aneh sampai dengan yang logis dan ilmiah.Kecerdasan dan ketajaman pikirnya tidak semua orang bisa menandinginya.Hafalan yang begitu kuat dan ilmu yang begitu luas seakan selalu menyemat dalam dirinya.

Gus Dur memang tokoh dan guru bangsa yang patutu untuk kita kenang dan hormati, perjalanan beliau selalu membawa kesan tersendiri. Lihat saja Gus Dur dan Kekuatan Membaca ini yang begitu mengesnakan, peristiwa yang patut untuk kita kenang dan tidak kita lupakan begitu saja. Dalam dakwah dan perjalanannya sering kali orang kurang melihat Gus Dur dari sisi ulama salaf yang mempuni, beliau lebih dilihat dari tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi ke beragaman sesuai dengan Kebinikaan kita sebagai negara Pancasila. Saat anda melihat Gus Dur dari dunia pesantren maka anda akan tahu bahwa Gus Dur merupakan tokkoh yang mempuni dibidang keagamaan berbagai kitab mampu beliau hafal beserta sanand lengkapnya.Serta ke zuhudan yang melekat dalam dirinya pun dapat kita temukan dalam kehidupan kesehariannya.

Sehingga tidak heran jika Gus Dur dan Kekuatan Membaca tidka pernah dilupakan oleh generasi berikutnya. Namun sayang bagi kelompok yang kurnag menyukai Gus Dur beliau cuma dipandang sebelah maka sebagai orang yang penuh kekurangan fisik saja. Namun jika orangitu mau membuka dengan pikiran jernihnya maka kelebihan dan ke pandian beliau belum tentu bisa ia tandingi. Dan jika kurnag percaya atau kurang mengenal akan Gus Dur silahkan untuk baca profil perjalanan beliau ini melalui Gus Dur dan Kekuatan Membaca semoga anda mendapat jawaban dari ketidak sukaan anda. Selamat membaca:


Oleh Anggi Afriansyah

Greg Barton penulis Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan cintanya Gus Dur terhadap buku. Kekuatan membaca Gus Dur seharusnya menginspirasi setiap santri di pesantren, para siswa secara umum yang sedang berjuang menggapai pengetahuan.

Gus Dur membaca buku jauh lebih banyak dibandingkan dengan sebayanya. Rumahnya penuh dengan buku. Apalagi Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu dan ahli ilmu. sebagai cucu dari KH Hasyim Asyari dan anak dari Kiai Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca di usianya yang sanga belia.

Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis.

Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, apa saja, dan di mana saja, tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.

Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Ia juga membaca karya Marx dan Lenin.
Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan Bahasa Arab juga debat-debat intelektualnya.

Ketika melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku semakin terakomodir. Apalagi di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca.

Semangat membaca Gus Dur memang luar biasa. Ia membaca bahkan sampai larut malam. Sehingga seringkali ia harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah padatnya aktivitas ia masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore ia sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.

Selain pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Sejak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga saat ini.

Belajar dari Gus Dur  

Kita tentu saja dapat banyak belajar dari seorang Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak usah diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca sebanyak-banyaknya buku yang tentu saja akan membuka kekayaan
perspektif dalam memandang persoalan.

Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi kuatnya membaca beragam buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media. Ia juga sudah aktif bekerja untuk kedutaan ataupun lembaga lainnya yang memanfaatkan kemampuan berbahasa arabnya yang sangat bagus.

Seperti yang dikisahkan oleh Barton, yang ada di benak Gus Dur adalah bagaimana ia memiliki uang untuk membeli buku dan menonton film. Lucunya, untuk mengelola keuangan ia serahkan kepada sahabat karibnya, Mahfudz Ridwan, mahasiswa asal Salatiga. Bahkan uang tersebut kadang digunakan Mahfudz untuk membantu mahasiwa lain yang kekurangan dana. Ia tak pernah memperdulikan uang, baginya yang penting ketika hendak membeli buku uang tersebut harus ada.

Gus Dur juga menunjukan kepada kita betapa ia memiliki pikiran terbuka dan ide-ide besar karena gemarnya ia melahap segala jenis bacaan. Seperti tokoh pendiri bangsa, Gus Dur sangat haus terhadap bahan bacaan. Catatan menarik diungkap Najwa Shihab dalam tulisannya di Kompas (18/8), Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku. Pada salah satu bagian ia menulis bahwa para tokoh bangsa merupakan orang-orang dengan pikiran terbuka dengan kepala penuh ide-ide besar yang membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia.

Catatan ini patut direnungkan bersama. Apalagi saat ini kita cenderung malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat.

Kita lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. Kita malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu saja. Mendiskusikan beragam hal dengan basis keyakinan diri semata bukan pada kematangan berpikir hasil membaca. Padahal ayat Al-Quran pertama yang turun memerintahkan kita untuk iqra, baca!

Tak heran jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan tradisi membaca dan menulis.  Dari data UNESCO tahun 2012 misalnya menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang berminat membaca. Data tersebut sungguh memprihatinkan

Melalui Gus Dur kita belajar agar tak selalu puas membaca dan belajar. Gus Dur mengajarkan kepada kita betapa pentingnya seseorang harus aktif membaca. Membaca beragam genre buku, beragam perspektif, dan belajar dari kehidupan. Tidak hanya terpaku pada ruang-ruang kelas yang formil. Gus Dur, seorang otodidak yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita agar terus memperbahrui pemahaman atas beragam hal, tanpa pernah berhenti.



Sumber : nu online

Judul Artikel lain:


Gus Dur dan Kekuatan Membaca

Judul artikel terkait :Gus Dur dan Kekuatan Membaca
Alamat link terkait :Gus Dur dan Kekuatan Membaca
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Gus Dur dan Kekuatan Membaca

0 komentar:

Posting Komentar