Sabtu, 19 Maret 2016

Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'

Sobat Gus Dur yang di rahmati Allah, Gus Dur memang sudar pulang kerahmat Allah namun perjuangan dan idiologi beliau selalu hidup dengan ajaran-ajarannya yang selalu kita ikuti bersama. Kehumanisan dan kegigihan beliau dalam menjaga NKRI yang begitu iklas serta tidak pernah goyah akan kedudukan dan kekuasaan dapat tercermin dalam keadaan beliau yang rela melepaskan jabatan kePresidenan pada waktu itu.Tidak akan pernah habis jika kita membicarakan tingkah pola Gus Dur dari yang nyeleh dan aneh sampai dengan yang logis dan ilmiah.Kecerdasan dan ketajaman pikirnya tidak semua orang bisa menandinginya.Hafalan yang begitu kuat dan ilmu yang begitu luas seakan selalu menyemat dalam dirinya.

Gus Dur memang tokoh dan guru bangsa yang patutu untuk kita kenang dan hormati, perjalanan beliau selalu membawa kesan tersendiri. Lihat saja Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk' ini yang begitu mengesnakan, peristiwa yang patut untuk kita kenang dan tidak kita lupakan begitu saja. Dalam dakwah dan perjalanannya sering kali orang kurang melihat Gus Dur dari sisi ulama salaf yang mempuni, beliau lebih dilihat dari tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi ke beragaman sesuai dengan Kebinikaan kita sebagai negara Pancasila. Saat anda melihat Gus Dur dari dunia pesantren maka anda akan tahu bahwa Gus Dur merupakan tokkoh yang mempuni dibidang keagamaan berbagai kitab mampu beliau hafal beserta sanand lengkapnya.Serta ke zuhudan yang melekat dalam dirinya pun dapat kita temukan dalam kehidupan kesehariannya.

Sehingga tidak heran jika Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk' tidka pernah dilupakan oleh generasi berikutnya. Namun sayang bagi kelompok yang kurnag menyukai Gus Dur beliau cuma dipandang sebelah maka sebagai orang yang penuh kekurangan fisik saja. Namun jika orangitu mau membuka dengan pikiran jernihnya maka kelebihan dan ke pandian beliau belum tentu bisa ia tandingi. Dan jika kurnag percaya atau kurang mengenal akan Gus Dur silahkan untuk baca profil perjalanan beliau ini melalui Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk' semoga anda mendapat jawaban dari ketidak sukaan anda. Selamat membaca:



Gusdurfiles.com ~ Anda boleh sepakat atau tidak dengan sosok Gus Dur yang fenomenal. Tapi yang jelas, sebagai bapak bangsa, dia memang dikenal langka, unik, dan dikagumi oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang kontroversial lantaran pemikiran-pemikirannya. Oleh sebab itu, banyak yang bilang membicarakan Gus Dur , itu seperti tidak ada habisnya.

Membicarakan Gus Dur kurang enak kalau tidak mengawalinya dengan kisah masa kecilnya. Gus Dur adalah anak pertama pasangan Abdul Wahid Hasyim dan Solichah. Ayahnya merupakan Menteri Agama yang pertama pada kabinet Mohammad Natsir yang dibentuk pertama kali setelah lima tahun Indonesia merdeka.

Wahid Hasyim wafat di usia muda, 38 tahun, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan ke Cimahi pada 19 April 1953. Wahid Hasyim kini dikenang sebagai pahlawan nasional. Dia adalah anak dari Kiai Hasyim Asyari, kiai tersohor, salah satu pendiri organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian, Gus Dur adalah cucu dari Mbah Hasyim--demikian orang-orang nahdliyin memanggilnya.

Wahid Hasyim menikahi Solichah ketika berumur 29 tahun. Sementara istrinya, Solichah, waktu itu belum genap enam belas tahun. Seperti kebanyakan kisah pernikahan putra-putri kiai, Wahid Hasyim dan Solichah menikah karena perjodohan. Solichah kemudian melahirkan Gus Dur pada tahun pertama pernikahannya, pada Sabtu, 7 September 1940, tepat di ujung masa penjajahan Belanda.

Menurut Barton, penulis buku Biografi Abdurrahman Wahid, Gus Dur menggunakan nama Abdurrahman Wahid, dengan meletakkan nama ayahnya 'Wahid', setelah namanya sendiri. Sebagaimana banyak dilakukan kaum santri Jawa atau kaum muslim ortodoks di Indonesia (muslim abangan), nama ayah itu mempertegas bahwa Abdurrahman adalah putra Wahid. Padahal, sebenarnya nama kecil Gus Dur bukanlah itu.

Konon, karena Wahid Hasyim sangat girang, dipenuhi optimisme dengan kelahiran anak pertamanya. Atau barang kali karena kemampuan melihat masa depan, dia memberi nama yang berat untuk anak pertamanya itu, yakni Abdurrahman Ad-Dakhil. Nama Ad-Dakhil diambil dari nama seorang pahlawan dari dinasti
Ummayyah, yang secara harfiah berarti "Sang Penakluk".

Setelah lahir, Abdurrahman Ad-Dakhil atau Gus Dur , kemudian tinggal bersama keluarganya di Jombang. Sebagai putra kiai, dia 'nyantri' atau belajar pendidikan agama di pondok pesantren Tebuireng, hingga usia 4 tahun. Pada umur lima tahun dia sudah lancar membaca Al-quran. Gurunya adalah kakeknya sendiri, Hasyim Asyari.

Gus Dur kecil tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Dia tidak tinggal bersama ayahnya, akan tetapi ikut bersama kakeknya. Semasa di rumah kakeknya itu Gus Dur kecil mulai mengenal dunia politik, dari orang-orang yang tiap hari sowan. Pada 1944, Gus Dur diajak ayahnya hijrah ke Jakarta. Dia tinggal berdua dengan ayahnya di Daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Waktu itu, dengan berdiam di daerah Menteng, Wahid Hasyim dan anak pertamanya itu berada di pusat kegiatan. Misalnya ketika keduanya melaksanakan salat di masjid Matraman yang letaknya tak begitu jauh, keduanya secara teratur bisa bertemu dengan pemimpin nasional, Mohammad Hatta. Di masjid itu, semua orang juga bisa mudah bertemu dengan Wahid Hasyim.

Menurut ingatan Gus Dur , setiap jam setengah delapan malam, dia sering membukakan pintu untuk seorang laki-laki asing berpakaian petani warna hitam yang berkunjung ingin bertemu ayahnya. Atas permintaan tamunya itu, Gus Dur memanggilnya Paman Hussein. Baru beberapa tahun kemudian dia tahu, bahwa orang itu adalah Tan Malaka, pemimpin komunis terkenal.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda berkecamuk. Pada akhir perang 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai menteri agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Dia terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada 1952.

Pendidikan Gus Dur berlanjut, pada 1954 dia masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) yakni Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Jakarta. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas.

Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada Kiai Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak, sambil belajar di sekolah umum SMP. Pada 1957, setelah lulus dari SMP, dia pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan muslim di Pesantren Tegalrejo.

Gus Dur mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada 1959, dia pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sambil belajar, dia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.

NB: Berbagai sumber via merdeka.com

Judul Artikel lain:


Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'

Judul artikel terkait :Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'
Alamat link terkait :Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'

0 komentar:

Posting Komentar